Untuk tahun ajaran 2019/2020 kali ini, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 masih menggunakan sistem zonasi. Hal ini sesuai dengan Permendikbud No.51/2018 tentang penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2019/2020.
Sistem seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) zonasi ini dilakukan dengan cara pemeringkatan atau rangking. Yang pertama kali di nilai dalam pemeringkatan untuk jalur zonasi dilakukan dengan jarak antara balaidesa dengan lokasi sekolah. Ada beberapa kategori zonasi, akan tetapi jarak terdekat lah yang diutamakan.
Contoh kasus pertama, jika jarak sama maka pemeringkatan diambil berdasarkan waktu pendaftaran. Jadi semakin awal mendaftar maka semakin rangking diatas. Kasus yang kedua, meskipun mendaftar lebih awal namun masuk kategori zona 2 misal jika dibandingkan dengan yang mendaftar setelahnya apabila masuk zona 1 maka posisi pendaftar zona 2 tadi akan tergeser oleh pendaftar zona 1.
Sistem ini sangat menarik karena bukan lagi nilai yang dijadikan patokan. Melainkan jauh dekatnya lokasi sekolah dengan domisili calon siswa. sistem ini bertujuan untuk memudahkan akses siswa sehingga lebih mudah dan lebih dekat dengan sekolah juga untuk lebih pemerataan siswa tiap sekolah. Sehingga tidak adalagi sekolah favorit dan non favorit.
Namun yang namanya sistem tetaplah sebuah sistem yang bukan tanpa kendala dan butuh beberapa penyesuaian. Banyak sekali keluhan yang muncul dari orang tua siswa. Karena nilai anaknya unggul akan tetapi tidak bisa masuk sekolah negeri yang diinginkan akhirnya harus masuk kesekolah swasta.
Banyak juga kalangan yang menentang sistem ini. Dikarenakan dengan adanya sistem zonasi ini ditambah semua siswa lulus sekolah tanpa nilai tes menjadikan sebagian siswa menjadi malas untuk belajar. Mereka beranggapan bahwa berapapun nilainya akan lulus dan berapapun nilainya akan diterima di sekolah negeri terdekat.
Sebagai masukan, sebaiknya sistem zonasi ini diperbaiki kembali. Saya lebih condong kepada 50% rangking ditemtukan zonasi, 50% lagi ditentukan dari tes masuk sekolah. Sehingga lebih adil dan lebih menguntungkan semua pihak.
Tidak dipungkiri, bahkan Negara dengan rangking pendidikan terbaik di dunia saat ini yaitu Finlandia, tanpa disadari telah lebih dahulu mengawalinya. Sekalipun tidak tertulis dalam aturan zonasi, akan tetapi di negara Finlandia semua sekolah sama. Tidak ada sekolah favorit dan non favorit. Semua sekolah sama. bahakan tidak ada sekolah swasta disana karena kualitas sekolah negeri sudah sangat bagus. Tentunya ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua membutuhkan proses yang panjang. Bisa dimulai dari pemerataan sarana dan prasarana penunjang pendidikan, sistem pendidikan yang mumpuni (lebih banyak praktek daripada teori), dll.
Pada akhirnya semuanya hanyalah sebuah sistem yang digunakan sebagai saran penunjang pendidikan. Hasil akhirnya tentu bagaimana produk siswa yang dihasilkan setelah lulus sekolah.
Karena sejatinya pendidikan bukan hanya semata tentang mata pelajaran, akan tetapi pendidikan karakter lah yang lebih utama. Nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kesopanan, itulah yang lebih utama diatas ilmu lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar